SIFAT
MEKANIKA KAYU
SISKA DAUD
M 1 1 1 1 1 316
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012
ABSTRAK
Laporan ini menyajikan tentang pengamatan salah satu sifat mekanika kayu
yaitu kelenturan kayu. Kelenturan kayu adalah kekuatan untuk menahan gaya-gaya yang
berusaha melengkungkan kayu atau untuk menahan beban-beban mati maupun hidup
selain beban pukulan yang harus dipikul oleh kayu tersebut. Dalam pembahasan laporan
ini mencakup mengenai elastisitas kayu, batas ketahanan kayu dan hubungan beban
dengan defleksi dengan menggunakan sampel kayu yang berukuran 2 x 2 x 30 cm.
Hasil akhirnya akan didapatkan nilai MOR dan MOE dari data pengamatan yang
dilakukan.
Kata kunci:
Mekanika kayu, Modulus
elastis, defleksi, keteguhan patah.
I.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kayu merupakan hasil hutan yang mudah
diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan kemajuan teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat yang tidak dapat
ditiru oleh bahan-bahan lain. Pemilihan
dan penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian, memerlukan pengetahuan
tentang sifat-sifat kayu. Sifat-sifat ini penting sekali dalam industri
pengolahan kayu sebab dari pengetahuan sifat tersebut tidak saja dapat dipilih
jenis kayu yang tepat serta macam penggunaan yang memungkinkan, akan tetapi
juga dapat dipilih kemungkinan penggantian oleh jenis kayu lainnya apabila
jenis yang bersangkutan sulit didapat secara kontinyu atau terlalu mahal.
Sifat
mekanik kayu ialah kemampuan kayu untuk menahan muatan atau beban dari luar.
Muatan dari luar ialah gaya-gaya di luar benda yang mempunyai kecenderungan
untuk mengubah bentuk dan besarnya benda.
Gaya adalah
setiap usaha yang cenderung untuk menggerakkan benda yang diam, atau mengubah
bentuk dan ukurannya, atau mengubah arah dan kecepatan benda yang bergerak.
Ada beberapa
macam gaya yang dapat bekerja pada benda yang disebut gaya primer yaitu :
1.
Gaya yang
mengakibatkan pemendekan ukuran atau memperkecil volume benda disebut gaya tekan
(compressive stress)
2.
Gaya yang
cenderung untuk menambah dimensi atau volume benda disebut gaya tarik (tensile
stress)
3.
Gaya yang
mengakibatkan satu bagian benda bergeser terhadap bagian benda yang lain
disebut gaya geser (shearing stress)
4.
Gaya lengkung
(bending stress) adalah hasil kombinasi semua gaya primer yang
menyebabkan terjadinya pelengkungan.
Sifat
mekanika biasanya merupakan syarat-syarat terpenting bagi pemilihan kayu
sebagai bahan struktural misalnya untuk konstruksi bangunan, palang-palang lantai,
tiang listrik, kerangka perabot rumah tangga, alat-alat olah raga, alat
kedok-teran dan lain-lain.
Sifat
mekanika kayu terdiri dari keteguhan tarik, keteguhan tekan/kompressi,
keteguhan geser, keteguhan lengkung (lentur), kekakuan, keuletan, kekerasan,
dan keteguhan belah. Dalam laporan ini, percobaan yang dilakukan khusus
mengenai keteguhan lengkung (lentur).
Keteguhan lengkung/lentur adalah kekuatan untuk menahan gaya-gaya yang
berusaha melengkungkan kayu atau untuk menahan beban mati maupun hidup selain
beban pukulan. Terdapat 2 (dua) macam
keteguhan yaitu :
a.
Keteguhan lengkung statik, yaitu kekuatan kayu
menahan gaya yang mengenainya secara perlahan-lahan.
b.
Keteguhan lengkung pukul, yaitu kekuatan kayu
menahan gaya yang mengenainya secara mendadak, misalnya pukulan.
Dengan mengetahui sifat-sifat mekanik kayu, kita dapat memastikan fungsi spesifik dari
suatu bahan dan kita bisa mengetahui bahan tersebut cocok digunakan untuk
bidang tertentu. Karena setiap bahan memiliki sifat-sifat
mekanik dan fisik yang berbeda
maka pengetahuan tentang sifat-sifat ini adalah hal yang mutlak untuk
diketahui. Dalam praktikum ini kita akan mengetahui tentang salah satu sifat
mekanik bahan kayu, khususnya sifat kekuatan lentur. Dimana pada hasil akhirnya
kita dapat mengetahui kekuatan lentur dari suatu bahan yang kita uji.
II. METODE PERCOBAAN
A.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam
percobaan ini adalah sampel kayu yang berukuran (2 x 2 x 30) cm. Sedangkan alat
yang digunakan yaitu deflektor dan alat tulis-menulis untuk mencatat hasil
pengamatan.
B.
Lokasi Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada
hari Selasa, tanggal 11 Desember 2012 pukul 16.00 – 17.00 di Laboratorium Sifat Dasar dan Teknologi Kimia
Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
C.
Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja dari praktikum ini yaitu:
1.
Menyiapkan alat yang akan digunakan dalam praktikum ini
2.
Menyediakan sampel kayu yang berukuran (2 x 2 x 30)
cm.
3.
Mengukur dimensi sampel kayu tersebut
4.
Menyalakan deflektor
5.
Meletakkan sampel kayu yang diukur pada deflektor,
kemudian melakukan pengamatan dengan kelipatan 5 kali
6.
Mencatat hasil pengamatan
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
|
No.
|
P(beban)
|
Y(Defleksi(cm))
|
|
17
|
85
|
0,372
|
|
18
|
90
|
0,394
|
|
19
|
95
|
0,414
|
|
20
|
100
|
0,435
|
|
21
|
105
|
0,458
|
|
22
|
110
|
0,485
|
|
23
|
115
|
0,511
|
|
24
|
120
|
0,532
|
|
25
|
125
|
0,558
|
|
26
|
130
|
0,584
|
|
2 7
|
135
|
0,62
|
|
28
|
140
|
0,653
|
|
29
|
145
|
0,693
|
|
30
|
150
|
0,748
|
|
31
|
155
|
0,88
|
|
32
|
159
|
0,952
|
|
No.
|
P
(beban)
|
(Defleksi(cm))
|
|
1
|
5
|
0,003
|
|
2
|
10
|
0,075
|
|
3
|
15
|
0,18
|
|
4
|
20
|
0,132
|
|
5
|
25
|
0,161
|
|
6
|
30
|
0,18
|
|
7
|
35
|
0,195
|
|
8
|
40
|
0,215
|
|
9
|
45
|
0,233
|
|
10
|
50
|
0,249
|
|
11
|
55
|
0,262
|
|
12
|
60
|
0,282
|
|
13
|
65
|
0,298
|
|
14
|
70
|
0,311
|
|
15
|
75
|
0,331
|
|
16
|
80
|
0,352
|
Tabel Hasil Pengamatan Kelenturan Kayu
Grafik Hubungan Beban
dengan defleksi

Bentuk linear
Hubungan beban dengan defleksi

Data pengukuran dimensi berupa : d = 20,37 mm = 2,037 cm
b = 18,54 mm = 1,854 cm
L = 14 cm
P = 159 kg ;
Perhitungan:
Regresi
Y= ax + b
a= DP/DY
Y= 243,1x - 8,125
MOR =
= 
= 
= 868,40 kg/cm2

= 5336531,2/62,68
= 85139,29 Kg/cm2
B.
Pembahasan
Pada tabel hasil pengujian kelenturan atau
elastisitas kayu menunjukkan bahwa pada saat beban kayu mencapai 159 kg, sampel
kayunya sudah sampai pada batas beban. Ketika sampel kayu tersebut diberi beban
pada batas proporsinya, panjang kelenturan kayu tersebut mencapai 0,952 cm atau
9,52 mm.
Dari hasil pengukuran dimensi, didapatkan nilai d
atau tebal sampel kayu yang diukur yaitu 20,37 mm atau sama dengan 2,037 cm,
dan untuk b atau lebar sampel kayu yang diukur yaitu 18,54 mm atau sama dengan
1,854 cm. Sedangkan untuk jarak sanggahnya atau L sepanjang 28 cm. Adapun hasil
perhitungan MOR (Modulus Of Rupture) atau keteguhan patah diperoleh dengan
menggunakan rumus 1.5 P x L/bd2 dan didapatkan hasil MOR sebesar 868,40 kg/cm2.
Kekuatan lentur patah atau Modulus
of Rupture (MOR) merupakan sifat mekanis kayu yang
berhubungan dengan kekuatan kayu yaitu ukuran kemampuan kayu untuk menahan
beban atau gaya luar yang bekerja padanya dan cenderung merubah bentuk dan ukuran kayu tersebut. Modulus of Rupture (MOR) dihitung dari beban
maksimum (beban pada saat patah) dalam uji keteguhan lentur dengan menggunakan
pengujian yang sama untuk MOE.
Untuk pengukuran MOE (Modulus Of Elasticity) atau modulus elastis dengan
menggunakan rumus pl3/4bd3Y diperoleh nilai MOE sebesar 85139,29 kg/cm2. Semakin tinggi modulus
elastis suatu kayu, maka semakin kaku juga kayu tersebut. Pada umumnya untuk
kayu yang memiliki kekakuan yang tinggi lebih baik kualitasnya untuk penggunaan
struktur bangunan.
Kekuatan
lentur atau Modulus of Elasticity (MOE) adalah suatu nilai yang konstan dan
merupakan perbandingan antara tegangan dan regangan dibawah batas proporsi.
Tegangan didefinisikan sebagai distribusi gaya per unit luas, sedangkan
renggangan adalah perubahan panjang per unit panjang bahan.
Modulus elastisitas (MOE) berkaitan dengan regangan, defleksi dan perubahan bentuk yang terjadi. Besarnya defleksi dipengaruhi oleh besar dan lokasi pembebanan, panjang dan ukuran balok serta MOE kayu itu sendiri. Makin tinggi MOE akan semakin kurang defleksi balok atau gelagar dengan ukuran tertentu pada beban tertentu dan semakin tahan terhadap perubahan bentuk.
Modulus elastisitas (MOE) berkaitan dengan regangan, defleksi dan perubahan bentuk yang terjadi. Besarnya defleksi dipengaruhi oleh besar dan lokasi pembebanan, panjang dan ukuran balok serta MOE kayu itu sendiri. Makin tinggi MOE akan semakin kurang defleksi balok atau gelagar dengan ukuran tertentu pada beban tertentu dan semakin tahan terhadap perubahan bentuk.
Determinasi MOR dilakukan bersamaan dengan
pengujian MOE Pengujian dilakukan pada arah sejajar panjang. Pengujian
dilakukan dengan pemberian beban pada bagian tengah contoh uji. Jarak sanggah (L) yang digunakan adalah 28 cm. Gaya yang terdapat pada balok saat dimuati beban, yakni gaya tekan, gaya
geser, dan gaya tarik.
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa kayu-kayu
yang berat sekali juga kuat sekali, dan bahkan kekuatan, kekerasan, dan sifat
mekanik lainnya adalah berbanding lurus dengan berat jenisnya (PKKI 1961).
Lembaga Pusat Penyelidikan Kehutanan membagi-bagi kekuatan kayu Indonesia dalam
lima kelas kuat, hal ini dapat dilihat sebagai berikut:
Kelas
Kuat Kayu Berdasarkan Berat Jenis, MOR, dan Kekuatan Tekan sejajar
Kelas Kuat Berat Jenis MOR(kg/cm2) Kekuatan tekan Sejajar Serat (kg/cm2)
I >90 >1100 >650
II 0.90-0.60 1100-725 650-425
III 0.60-0.40 725-500 425-300
IV 0.40-0.30 500-360 300-215
V <0.30 <360 <215
Kelas Kuat Berat Jenis MOR(kg/cm2) Kekuatan tekan Sejajar Serat (kg/cm2)
I >90 >1100 >650
II 0.90-0.60 1100-725 650-425
III 0.60-0.40 725-500 425-300
IV 0.40-0.30 500-360 300-215
V <0.30 <360 <215
Menurut data di atas, dapat diketahui bahwa sampel kayu
yang digunakan sebagai sampel dalam praktikum ini dengan nilai MOR sebesar
868,40 kg/cm2 tergolong kelas kayu
kelas II.
Berdasarkan nilai MOE (Modulus of Elasticity) PKKI
1961 (Peraturan Kontruksi Kayu Indonesia) membasi kekuatan kayu Indonesia dalam
empat kelas kuat. Kelas kayu berdasarkan MOE (Modulus of Elassticcity) :
Kelas Kuat Kayu Berdasarkan MOE ( Modulus of
Elasticity)
Kelas Kuat MOE (kg/cm2)
I 125.000
II 100.000
III 80.000
IV 60.000
I 125.000
II 100.000
III 80.000
IV 60.000
Berdasarkan data di atas maka dapat diketahui bahwa kayu
yang digunakan sebagai sampel dengan nilai MOE sebesar 85139,29 kg/cm2 tergolong kelas kayu II.
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan, maka
dapat disimpulkan bahwa:
1. Kayu mengalami batas proporsi saat dibebani beban seberat 159 kg dengan batas
defleksi 0,952 cm.
2. Nilai MOR atau keteguhan patah yang diperoleh sebesar 868,40 kg/cm2 .
3. Nilai MOE atau modulus elastis yang diperoleh
sebesar 85139,29 kg/cm2.
4. Berdasarkan nilai MOR dan MOE, sampel kayu tergolong kelas II.
REFERENSI
20 Desember 2012
http://www.adipedia.com/2011/06/sifat-fisis-dan-mekanik-kayu.html
diakses
tanggal 22 Desember 2012
23
Desember 2012
NAN/INFO_V02/VII_V02.html diakses tanggal 23
Desember 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar