FISIKA KAYU SISKA DAUD M 1 1 1 1 1 316 FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012 ABSTRAK Laporan ini menyajikan pengamatan mengenai sifat fisika kayu yang mencakup berat jenis kayu, kerapatan kayu, pengembangan dan penyusutan kayu, serta kadar air kayu. Sifat fisika kayu adalah sifat-sifat asli dari kayu (wood inheren factors) yang dapat berubah-rubah karena adanya pengaruh lingkungan (suhu dan kelembaban udara). Praktikum ini menggunakan lima jenis kayu yang masing-masing berukuran (2 x 2 x2) cm dan (2 x 2 x 3) cm yang diukur volume serta sifat fisika dari sampel kayu tersebut. Hasil praktikum menunjukkan bahwa setiap data tentang fisika kayu(kadar air, berat jenis, kerapatan, perubahan dimensi) memiliki nilai yang berbeda-beda dari tiap sampel. Kata Kunci: Fisika kayu, Kadar air, berat jenis, kerapatan, pengembangan, penyusutan. PENDAHULUAN Latar Belakang Pemilihan dan penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian, memerlukan pengetahuan tentang sifa-sifat kayu. Sifat-sifat ini penting sekali dalam industri pengolahan kayu sebab dari pengetahuan tersebut tidak saja dapat dipilih jenis kayu yang tepat serta macam penggunaan yang memungkinkan, akan tetapi juga dapat dipilih kemungkinan penggantian oleh jenis kayu lainnya apabila jenis yang bersangkutan sulit didapat secara kontinyu atau terlalu mahal. Pengenalan atas sifat-sifat fisik kayu akan sangat membantu dalam menentukan jenis-jenis kayu untuk tujuan pengunaan tertentu. Diharapkan dengan memahami sifat-sifat kayu dan jenis-jenis kayu untuk penggunaan tertentu akan semakin mengurangi ketergantungan konsumen akan suatu jenis kayu tertentu saja sehingga pemanfaatan jenis-jenis kayu yang semula belum dimanfaatkan (jenis-jenis yang belum dikenal umum) akan semakin meningkat. Sebagai produk alam yang tersusun atas karbon (46% C), hydrogen (6% H), oksigen (44% O) serta mineral (1%). Panshin, et.al, (1964) mengemukakan bahwa kayu memiliki sifat higroskopis dimana keberadaan sifat ini menyebabkan kayu dapat menyerap (absorpsi) dan melepaskan (desorpsi) air untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya. Kemampuan arbspsi dan desorpsi kayu ini berakibat pada besarnya kadar air yang selalu berubah tergantung pada suhu kelembaban lingkungan sekitarnya. Kadar air merupakan banyaknya air yang dikandung kayu yang dinyatakan dalam persen terhadap berat kering tanurnya (Brown, et,al., 1952). Tsoumis (1991) mengemukakan bahwa besarnya kadar air dalam pohon hidup bervariasi antara 30-300% tergantung dari spesies pohon, (hardwood atau softwood), posisi dalam batang (vertical dan horizontal) serta musim (salju, semi, panas dan gugur). Brown et al. (1952) menyatakan bahwa berat jenis kayu bervariasi diantara berbagai jenis pohon dan diantara pohon dari jenis yang sama. Variasi ini juga terjadi pada posisi yang berbeda dari satu pohon. Adanya variasi jenis kayu tersebut disebabkan oleh perbedaan dalam jumlah zat penyusun dinding sel dan kandungan zat ekstraktif per unit volume. Ketepatan pemilihan jenis kayu untuk sesuatu pemakaian memerlukan pengetahuan tentang sifat dasarnya. Sifat dasar tersebut, diantaranya berat jenis, kekuatan, dan stabilitas dimensi. Sifat tersebut bisa dipengaruhi oleh sifat atau karakteristik anatomi kayu. Sebagai contoh pohon yang membentuk kayu dengan berat jenis tinggi dipengaruhi antara lain oleh dinding sel yang tebal dan kadar zat ekstraktif. Hal tersebut sangat bernilai bagi pengolahan produk-produk kayu gergajian struktural. Sedangkan jenis pohon yang menghasilkan kayu dengan berat jenis rendah dipengaruhi oleh dinding sel yang tipis dan rongga sel, jumlah dan ukuran pori yang besar. Jenis ini cocok sebagai bahan baku pembuatan pulp dan kertas. Jadi, sifat dasar kayu ini penting dipahami agar didalam proses pengolahan, pengangkutan, maupun penggunaannya dapat dilakukan secara saksama sehingga tidak terjadi pemborosan bahan,waktu, tenaga maupun biaya. Dengan mengetahui sifat fisis pada kayu diharapkan akan sangat berguna dalam rangka pemanfaatan kayu secara optimum baik ditinjau dari segi kekuatan, keindahan ataupun lamanya penggunaan. Adapun tujuan dari praktikum ini adalah dapat memahami pengertian dan volume dari berat kayu basah, kering udara dan kering tanur, memahami cara penentuan kadar air, berat jenis, kerapatan dan perubahan dimensi pada kayu serta memahami faktor-faktor yang berpengaruh terhadap berat jenis kayu. METODE PERCOBAAN Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah air, sampel kayu berukuran (2 x 2 x 2) cm dan (2 x 2 x 3) cm masing-masing lima jenis. Sedangkan alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah timbangan, oven, desikator, gelas ukur, jarum penusuk, kalifer (sejenis jangka sorong) dan alat tulis-menulis. Lokasi Praktikum Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 23 November 2012 pukul 14.30-16.00 dan ditambah beberapa hari ke depan di Laboratorium Sifat Dasar dan Teknologi Kimia Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin, Makassar. Prosedur Kerja Penentuan Volume Menyiapkan bejana berisi air dan letakkan di atas suatu timbangan. Catat berat bejana tersebut dengan airnya. Namun untuk timbangan digital, setelah meletakkan gelas ukur berisi air pada timbangan dilanjutkan dengan menekan tombol zero agar angka pada layar tetap 0 (nol). Menyiapkan contoh uji yang akan diukur volumenya. Memasukkan contoh uji ke dalam bejana berisi air sampai seluruh bagiannya tenggelam, dan catat kenaikan berat yang ditimbulkan oleh penenggelaman tersebut sebagai volume dari contoh uji tersebut. Sama seperti pada cara metode celup, penenggelaman juga akan dipermudah dengan menggunakan jarum dan statip. Setelah gelas ukur berisi air diletakkan di atas timbangan diikuti dengan menekan tombol zero pada panel control, sehingga angka pada layar tetap 0 (nol). Kadar Air Menyiapkan contoh uji yang akan diukur kadar airnya. Menimbang contoh uji dan catat hasil penimbangan ini sebagai berat awal contoh uji. Mengering udarakan contoh uji, kemudian timbang beratnya. Contoh uji kemudian dikeringkan pada suhu 103oC + 2oC selama 48 jam. Menimbang dan catat berat kering tanur contoh uji. Perubahan Dimensi Pada Kayu (Pengembangan dan Penyusutan) Menyiapkan contoh uji yang akan diukur penyusutannya. Sampel yang memiliki kadar air dibawah titik jenuh serat direndam terlebih dahulu selama 3 hari. Memberi tanda berupa garis pada tiga arah utama (longitudinal, tangensial dan radial) contoh uji tersebut. Mengukur dimensi awal dari contoh uji pada tempat-tempat yang telah diberi garis yaitu pada arah longitudinal, tangensial, dan radial. Mengeringkan contoh uji sampai mencapai keadaan kering tanur. Mengukur dimensi contoh uji yang telah dikering tanurkan ini pada tempat-tempat yang telah diberi garis yaitu pada arah longitudinal, tangensial dan radial. Untuk mengetahui pengembangan kayu contoh uji kemudian direndam sampai mencapai keadaan di atas titik jenuh serat. Ukur dimensi contoh uji yang telah direndam ini pada tempat-tempat yang telah diberi tanda garis yaitu pada arah longitudinal, tangential, dan radial. Kerapatan Kayu Menyiapkan contoh uji kayu yang telah dikering udara. Menimbang dan catat berat contoh uji pada keadaan kering udara. Mengukur volume kayu keadaan kering udara. Contoh uji kemudian dikeringkan pada suhu 103o + 2oC selama 24 jam. Menimbang berat dan ukur volume contoh uji tersebut. Berat Jenis kayu Siapkan contoh uji dalam keadaan kering udara. Ukur volume kayu keadaan kering udara. Keringkan contoh uji pada suhu 103oC + 2oC selama 24 jam. Timbang berat dan ukur volume contoh uji pada keadaan kering tanur. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kadar Air - Hasil pengukuran berat (sampel kayu 2x2x3 cm) pada contoh uji kadar air Nomor Sampel Berat Awal (g) Berat Kering Tanur (g) Berat Awal-Berat Kering Tanur (g) 1 6,32 5,33 0,99 2 2,89 2,55 0,34 3 4,93 4,09 0,84 4 3,71 3,29 0,42 5 8,98 7,87 1,11 Hasil Pengukuran berat (sampel kayu 2x2x2 cm) pada uji kadar air Perhitungan Ka sampel 1 = (Ba-Berat Kering Tanur)/(Berat Kering Tanur) x 100%= 0,99/5,33 x 100%=18,57% Ka sampel 2 = (Berat Awal-Berat Kering Tanur)/(Berat kering Tanur) x 100%= 0,34/2,55 x 100%=13,33% Ka sampel 3 = (Berat Awal-Berat Kering Tanur)/(Berat kering Tanur) x 100%= 0,84/4,09 x 100%=20,54% Ka sampel 4 = (Berat Awal-Berat Kering Tanur)/(Berat kering Tanur) x 100%= 0,42/3,29 x 100%=12,76% Ka sampel 5 = = (Berat Awal-Berat Kering Tanur)/(Berat kering Tanur) x 100%= 1,11/7,87 x 100%=14,104% Perubahan Dimensi (Pengembangan dan Penyusutan) - Hasil pengukuran dimensi (sampel 2x2x2 cm) pada contoh uji perubahan dimensi No. Sampel Dimensi Awal (cm) Dimensi Akhir (cm) L T R L T R 1 2,104 1,969 2,007 2,098 1,888 1,956 2 2,106 2,0,21 2,022 2,099 1,924 1,976 3 2,137 2,364 1,857 2,131 2,269 1,817 4 2,117 1,821 1,834 2,112 1,739 1,795 5 2,098 2,007 2,034 2,090 1,913 2,010 Hasil Pengukuran dimensi (sampel 2x2x3 cm) pada contoh uji perubahan dimensi No. Sampel Dimensi Awal (cm) Dimensi Akhir (cm) L T R L T R 1 3,083 1,761 2,121 3,090 1,825 2,140 2 2,957 1,927 1,988 2,963 1,960 2,002 3 3,083 1,800 1,684 3,096 1,884 1,722 4 3,229 1,959 1,995 3,233 1,985 2,015 5 3,086 1,951 1,889 3,091 1,974 1,992 Perhitungan Penyusutan (sampel 2x2x2 cm) Arah Longitudinal: sampel 1(%) = (Dimensi awal – Dimensi akhir)/(dimensi awal) x 100%= (2,104-2,098)/2,104 x 100% =0,285% Sampel 2 (%)= (Dimensi awal – Dimensi akhir)/(dimensi awal) x 100% = (2,106-2,099)/2,106x 100% =0,332% Sampel 3 (%) = (Dimensi awal – Dimensi akhir)/(dimensi awal) x 100% = (2,137-2,131)/2,137x 100% =0,28% Sampel 4(%)=(Dimensi awal – Dimensi akhir)/(dimensi awal) x 100% = (2,117-2,112)/2,117x 100% =0,236% Sampel 5 (%)=(Dimensi awal – Dimensi akhir)/(dimensi awal) x 100% = (2,098-2,090)/2,098x 100% =0,38% ArahTangensial: sampel 1(%) = (Dimensi awal – Dimensi akhir)/(dimensi awal) x 100%= (1,969-1,888)/1,969 x 100% =4,11% Sampel 2 (%)= (Dimensi awal – Dimensi akhir)/(dimensi awal) x 100% = (2,021-1,924)/2,021x 100% =4,84% Sampel 3 (%) = (Dimensi awal – Dimensi akhir)/(dimensi awal) x 100% = (2,364-2,269)/2,364x 100% =4,01% Sampel 4(%)=(Dimensi awal – Dimensi akhir)/(dimensi awal) x 100% = (1,821-1,739)/1,821x 100% =5,17% Sampel 5 (%)=(Dimensi awal – Dimensi akhir)/(dimensi awal) x 100% = (2,007-1,913)/2,007x 100% =4,68% Arah Radial: sampel 1(%) = (Dimensi awal – Dimensi akhir)/(dimensi awal) x 100%= (2,007-1,956)/2,007 x 100% =2,54% Sampel 2 (%)= (Dimensi awal – Dimensi akhir)/(dimensi awal) x 100% = (2,022-1,976)/2,022x 100% =2,27% Sampel 3 (%) = (Dimensi awal – Dimensi akhir)/(dimensi awal) x 100% = (1,857-1,817)/1,857x 100% =2,15% Sampel 4(%)=(Dimensi awal – Dimensi akhir)/(dimensi awal) x 100% = (1,834-1,795)/1,834x 100% =2,12% Sampel 5 (%)=(Dimensi awal – Dimensi akhir)/(dimensi awal) x 100% = (2,034-2,010)/2,034x 100% =1,17% Pengembangan(sampel 2x2x3 cm) Arah Longitudinal sampel 1(%) = (Dimensi akhir – Dimensi awal)/(dimensi awal) x 100%= (3,090-3,083)/3,090 x 100% =0,226% sampel 2(%) = (Dimensi akhir – Dimensi awal)/(dimensi awal) x 100%= (2,963-2,957)/2,963 x 100% =0,202% sampel 3(%) = (Dimensi akhir – Dimensi awal)/(dimensi awal) x 100%= (3,096-3,083)/3,096 x 100% =0,285% sampel 4(%) = (Dimensi akhir – Dimensi awal)/(dimensi awal) x 100%= (3,233-3,229)/3,233 x 100% =0,124% sampel 5(%) = (Dimensi akhir – Dimensi awal)/(dimensi awal) x 100%= (3,091-3,086)/3,091 x 100% =0,161% Arah Tangensial sampel 1(%) = (Dimensi akhir – Dimensi awal)/(dimensi awal) x 100%= (1,825-1,761)/1,825 x 100% =3,507% sampel 2(%) = (Dimensi akhir – Dimensi awal)/(dimensi awal) x 100%= (1,960-1,927)/1,960 x 100% =1,684% sampel 3(%) = (Dimensi akhir – Dimensi awal)/(dimensi awal) x 100%= (1,884-1,800)/1,884 x 100% =4,458% sampel 4(%) = (Dimensi akhir – Dimensi awal)/(dimensi awal) x 100%= (1,985-1,959)/1,985 x 100% =1,309% sampel 5(%) = (Dimensi akhir – Dimensi awal)/(dimensi awal) x 100%= (1,974-1,959)/1,974 x 100% =0,759% Arah Radial sampel 1(%) = (Dimensi akhir – Dimensi awal)/(dimensi awal) x 100%= (2,140-2,121)/2,140 x 100% =0,895% sampel 2(%) = (Dimensi akhir – Dimensi awal)/(dimensi awal) x 100%= (2,002-1,988)/2,002 x 100% =0,699% sampel 3(%) = (Dimensi akhir – Dimensi awal)/(dimensi awal) x 100%= (1,722-1,684)/1,722 x 100% =2,206% sampel 4(%) = (Dimensi akhir – Dimensi awal)/(dimensi awal) x 100%= (2,015-1,995)/2,015 x 100% =0,99% sampel 5(%) = (Dimensi akhir – Dimensi awal)/(dimensi awal) x 100%= (1,992-1,889)/1,992 x 100% =5,171% Kerapatan 1. Hasil pengukuran berat dan volume pada contoh uji kerapatan kayu No. Sampel Berat(g) Volume(cm3) KU KT KU KT 1 6,32 5,33 8,51 7,80 2 2,89 2,55 8,38 7,84 3 4,93 4,09 8,48 7,95 4 3,71 3,29 6,79 6,41 5 8,08 7,61 8,98 7,82 2. Perhitungan Kerapatan Kering Udara a. Sampel 1 = 6,32/8,51= 0,74 g/cm3 b. Sampel 2 =2,89/8,38= 0,34 g/cm3 c. Sampel 3 =4,93/8,48= 0,58 g/cm3 d. Sampel 4 =3,71/6,79= 0,546 g/cm3 e. Sampel 5 =8,08/8,98= 0,899 g/cm3 Kerapatan Kering Tanur a. Sampel 1 =5,33/7,80= 0,68 g/cm3 b. Sampel 2 =2,55/7,84= 0,32 g/cm3 c. Sampel 3 =4,09/7,95= 0,51 g/cm3 d. Sammpel 4 =3,29/6,41= 0,51 g/cm3 e. Sampel 5 =7,61/7,82= 0,97 g/cm3 Berat Jenis Hasil pengukuran berat dan volume pada contoh uji berat jenis. No. Sampel Berat Kering Tanur (gr) Volume (cm3) KU KT 1 5,33 8,51 7,80 2 2,55 8,38 7,84 3 4,09 8,48 7,95 4 3,29 6,79 6,41 5 7,61 8,98 7,82 Berat jenis kayu kering udara a. Sampel 1 Bj ku =Bkt/Vku = 5,33/8,51 = 0,626 b. Sampel 2 Bj ku =2,55/8,38= 0,304 c. Sampel 3 Bj ku =Bkt/Vku =4,09/8,48= 0,482 d. Sampel 4 Bj ku =Bkt/Vku =3,29/6,79= 0,484 e. Sampel 5 Bj ku =Bkt/Vku =7,61/8,98= 0,84 Berat Jenis Kayu Kering Tanur a. Sampel 1 Bj kt =Bkt/Vkt = 5,33/7,80 = 0,68 b. Sampel 2 Bj kt =Bkt/Vkt =2,55/7,84= 0,32 c. Sampel 3 Bj kt =Bkt/Vkt =4,09/7,95= 0,514 d. Sampel 4 Bj kt =Bkt/Vkt =3,29/6,41= 0,513 e. Sampel 5 Bj kt =Bkt/Vkt =7,61/7,82= 0,97 Pembahasan Kadar Air Berdasarkan hasil yang diperoleh dari percobaan mengenai kadar air kayu, diperoleh kadar air sampel 1 sebesar 18,57%, sampel 2 sebesar 13,33%, sampel 3 sebesar 20,54%, sampel 4 sebesar 12,76%, dan sampel 5 sebesar 14,104%. Dilihat dari hasil persentase kadar air, setiap sampel memiliki kadar air yang berbeda-beda. Untuk kandungan kadar air pada kayu, kayu yang memiliki kandungan kadar air sedikit, lebih baik penggunaannya dibanding kayu yang memiliki kandungan kadar air yang banyak. Semakin rendah kandungan kadar air pada kayu, maka semakin baik digunakan untuk pemakaian kayu. Kadar air kayu adalah perbandingan antara berat air yang ada dalam suatu batang kayu dengan berat kering tanah kayu yang bersangkutan. Pada dasarnya, banyak sekali faktor yang menyebabkan variasi kadar air pada sampel atau kayu-kayu lainnya. Seperti tempat tumbuh, lokasi geografis, dan spesies itu sendiri. Faktor-faktor yang berhubungan dengan tempat seperti kelembaban, ketersediannya cahaya matahari, dan zat-zat makanan di sekitar tempat tumbuh pohon tersebut. Perubahan Dimensi Pada perubahan dimensi kayu, yang diamati adalah penyusutan dan pengembangan kayu. Pada percobaan ini, sampel kayu yang digunakan adalah 2x2x3 cm. Berdasarkan hasil perhitungan kayu untuk penyusutan, pada arah longitudinal untuk sampel 1 sebesar 0,285%, sampel 2 sebesar 0,332%, sampel 3 sebesar 0,28%, sampel 4 sebesar 0,236% dan sampel 4 sebesar 0,38%. Penyusutan terjadi paling sedikit pada arah longitudinal ini, sehingga hasilnya bahkan dianggap tidak ada karena nilai penyusutannya terlalu kecil. Pada arah tangensial, diperoleh hasil %penyusutan untuk sampel 1 sebesar 4,11%, sampel 2 sebesar 4,84%, sampel 3 sebesar 4,01%, sampel 4 sebesar 5,17% dan sampel 5 sebesar 4,68%. %Penyusutan yang terjadi pada arah tangensial ini adalah yang paling besar dari arah radial dan arah longitudinal. Pada arah radial, diperoleh % penyusutan untuk sampel 1 sebesar 2,54%, sampel 2 sebesar 2,27%, sampel 3 sebesar 2,15%, sampel 4 sebesar 2,12% dan sampel 5 sebesar 1,17%. % penyusutan pada arah radial ini lebih kecil dari pada %penyusutan arah tangensial dan lebih besar dari %penyusutan arah longitudinal. Untuk pengembangan pada arah longitudinal untuk sampel 1 sebesar 0,226%, sampel 2 sebesar 0,202%, sampel 3 sebesar 0,285%, sampel 4 sebesar 0,124% dan sampel 5 sebesar 0,161%. Seperti pada penyusutan, pada arah ini % pengembangan memiliki nilai yang paling sedikit dari arah longitudinal dan arah radial. Pada arah tangensial untuk sampel 1 diperoleh % pengembangan sebesar 3,507%, sampel 2 sebesar 1,684%, sampel 3 sebesar 4,458%, sampel 4 sebesar 1,309%, dan sampel 5 sebesar 0,895%. Pada arah radial untuk sampel 1 diperoleh % pengembangan sebesar 0,895%, sampel 2 sebesar 0,699%, sampel 3 sebesar 2,206%, sampel 4 sebesar 0,99%, dan sampel 5 sebesar 5,171%. Kerapatan Massa atau berat serta volume untuk mencari nilai kerapatan bisa menggunakan kondisi yang bermacam-macam (kondisi segar atau basah, kondisi kering udara, kondisi kadar air senyatanya atau kering tanur). Pada percobaan ini, yang diamati yaitu pada kondisi kering udara dan kering tanur. Berdasarkan hasil perhitungan yang diperoleh dari percobaan ini, pada sampel 1 diperoleh nilai kerapatan kering udara sebesar 0,74 gr/cm3, sampel 2 sebesar 0,34 gr/cm3, sampel 3 sebesar 0,58 gr/cm3, , sampel 4 sebesar 0,546 gr/cm3, dan sampel 5 sebesar 0,899 gr/cm3. Untuk kerapatan kering tanur, diperoleh nilai kerapatan sampel 1 sebesar 0,68 gr/cm3, sampel 2 sebesar 0,32 gr/cm3, sampel 3 sebesar 0,514 gr/cm3, sampel 4 sebesar 0,513 gr/cm3, dan sampel 5 sebesar 0,97 gr/cm3. Untuk setiap jenis sampel kayu, diperoleh kerapatan kayu yang berbeda-beda. Kerapatan kayu di dalam suatu spesies ditemukan bervariasi dengan sejumlah faktor yang meliputi letaknya di dalam pohon, letak dalam kisaran spesies tersebut, kondisi tempat tumbuh, dan sumber sumber genetik. Berat Jenis Berdasarkan perhitungan yang diperoleh dari data yang dihasilkan dari perhitungan ini, diperoleh berat jenis kayu kering udara untuk sampel 1 sebesar 0,626, untuk sampel 2 sebesar 0,304, untuk sampel 3 sebesar 0,482, sampel 4 sebesar 0,484, dan sampel 5 sebesar 0,84. Berat jenis kayu kering tanur untuk sampel 1 diperoleh nilai sebesar 0,68, sampel 2 sebesar 0,32, sampel 3 sebesar 0,514, sampel 4 sebesar 0,513, dan sampel 5 sebesar 0,97. Semakin tinggi berat jenis kayu, maka kualitas kayu tersebut semakin baik. Kayu yang paling tinggi berat jenisnya yaitu kayu pada sampel 5. Untuk berat jenis, tidak memiliki satuan (unitless) karena merupakan perbandingan berat benda terhadap berat dari volume air yang sama dengan volume benda yang diukur atau dapat juga didefinisikan sebagai perbandingan antara kerapatan kayu (atas dasar berat kering tanur dan volume pada berbagai kondisi kayu) terhadap kerapatan air. KESIMPULAN Berdasarkan praktikum yang dilakukan, dapat disimpulkan: Hasil kadar air kayu sampel 1 sebesar 18,57%, sampel 2 sebesar 13,33%, sampel 3 sebesar 20,54%, sampel 4 sebesar 12,76%, dan sampel 5 sebesar 14,104%. Besar % penyusutan pada arah longitudinal untuk sampel 1 sebesar 0,285%, sampel 2 sebesar 0,332%, sampel 3 sebesar 0,28%, sampel 4 sebesar 0,236% dan sampel 4 sebesar 0,38%. Pada arah tangensial %penyusutan untuk sampel 1 sebesar 4,11%, sampel 2 sebesar 4,84%, sampel 3 sebesar 4,01%, sampel 4 sebesar 5,17% dan sampel 5 sebesar 4,68%. Pada arah radial % penyusutan untuk sampel 1 sebesar 2,54%, sampel 2 sebesar 2,27%, sampel 3 sebesar 2,15%, sampel 4 sebesar 2,12% dan sampel 5 sebesar 1,17%. Penyusutan yang paling besar terjadi pada arah tangensial>radial>longitudinal. Besar % pengembangan pada arah longitudinal untuk sampel 1 sebesar 0,226%, sampel 2 sebesar 0,202%, sampel 3 sebesar 0,285%, sampel 4 sebesar 0,124% dan sampel 5 sebesar 0,161%. Pada arah tangensial untuk sampel 1 diperoleh % pengembangan sebesar 3,507%, sampel 2 sebesar 1,684%, sampel 3 sebesar 4,458%, sampel 4 sebesar 1,309%, dan sampel 5 sebesar 0,895%. Pada arah radial untuk sampel 1 diperoleh % pengembangan sebesar 0,895%, sampel 2 sebesar 0,699%, sampel 3 sebesar 2,206%, sampel 4 sebesar 0,99%, dan sampel 5 sebesar 5,171%. Nilai kerapatan kering udara untuk sampel 1 sebesar 0,74 gr/cm3, sampel 2 sebesar 0,34 gr/cm3, sampel 3 sebesar 0,58 gr/cm3, , sampel 4 sebesar 0,546 gr/cm3, dan sampel 5 sebesar 0,899 gr/cm3. Untuk kerapatan kering tanur, diperoleh nilai kerapatan sampel 1 sebesar 0,68 gr/cm3, sampel 2 sebesar 0,32 gr/cm3, sampel 3 sebesar 0,514 gr/cm3, sampel 4 sebesar 0,513 gr/cm3, dan sampel 5 sebesar 0,97 gr/cm3. Berat jenis kayu kering udara untuk sampel 1 sebesar 0,626, untuk sampel 2 sebesar 0,304, untuk sampel 3 sebesar 0,482, sampel 4 sebesar 0,484, dan sampel 5 sebesar 0,84. Berat jenis kayu kering tanur untuk sampel 1 diperoleh nilai sebesar 0,68, sampel 2 sebesar 0,32, sampel 3 sebesar 0,514, sampel 4 sebesar 0,513, dan sampel 5 sebesar 0,97. REFERENSI Brown, H.P., A.J Panshin dan C.C Forsaith, 1952. Textbook of Wood Technology, Volume II. Mc Grow Hill. New York. http://trisnusatriadi.blogspot.com/2009/05/sifat-fisika-mekanika-kayu.html. Diakses tanggal 18 Desember 2012 Panshin, A. J and C. de Zeeuw. 1980. Texbook of Wood Technology. 14 ed. McGraw-Hill Book Company, NewYork.
Senin, 14 Januari 2013
sifat fisika kayu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar